PENDAHULUAN
.A. Latar belakang
Organisasi sebetulnya mirip suatu
makhluk hidup. Mengapa? Karena organisasi adalah kumpulan manusia. Manusia yang
bersatu untuk mencapai tujuan. Oleh karena itu kita tidak bisa memandang
organisasi sebagai benda mati yang bisa diperlakukan seenaknya. Diperlukan
suatu perawatan khusus agar organisasi tetap hidup dan berkembang.
Berangkat dari pemikiran itu, prinsip-prinsip manajemen organisasi sesungguhnya
adalah manajemen orang-orang didalamnya. SDM merupakan faktor paling penting
dalam keberlangsungan hidup organisasi. Manusia adalah pendiri, perancang,
pekerja, pengamat, pengkritik, pemutus suatu organisasi. Tanpa mereka tidak ada
organisasi. Oleh karena itu konsep manajemen organisasi ideal haruslah berpusat
pada manusia.
Setidaknya ada tiga hal yang merupakan prinsip pokok dalam manajemen, yakni
planning, actuating, dan controlling. Prinsip-prinsip pokok ini harus dilakukan
dengan melibatkan organ-organ dalam organisasi.
B. TUJUAN
1. Untuk mengetahui manajemen
organisasi
2. Memperluas pengetahuan tentang
organisasi
3. Mengetahui perkembangan management
organisasi
C.
MASALAH
• Makalah ini mengkaji pengembangan organisasi
• Empat subsistem organisasi (visi, kultur, struktur dan strategi) sebagai
bagianyang berdiri sendiri.
D.
BATASAN
MASALAH
Masalah ini hanya membahas tentang manajemen pengembangan organisa
BAB II
LANDASAN TEORI
Organisasi meurut para ahli adalah:
• Organisasi Menurut Stoner "Organisasi adalah suatu pola
hubungan-hubungan yang melalui mana orang-orang di bawah pengarahan manajer
mengejar tujuan bersama."
• Organisasi Menurut James D. Mooney "Organisasi adalah bentuk setiap
perserikatan manusia untuk mencapai tujuan bersama."
• Organisasi Menurut Chester I. Bernard "Organisasi merupakan suatu sistem
aktivitas kerja sama yang dilakukan oleh dua orang atau lebih."
• Organisasi Formal. Organisasi formal adalah kumpulan dari dua orang atau
lebih yang mengikatkan diri dengan suatu tujuan bersama secara sadar serta
dengan hubungan kerja yang rasional. Contoh : Perseroan terbatas, Sekolah,
Negara, dan lain sebagainya.
• Organisasi Informal. Organisasi informal adalah kumpulan dari dua orang atau
lebih yang telibat pada suatu aktifitas serta tujuan bersama yang tidak
disadari. Contoh : Arisan ibu-ibu sekampung, belajar bersama anak-anak sd,
kemping ke gunung pangrango rame-rame dengan teman, dan lain-lain.
Perilaku organisasi juga dikenal
sebaagai Studi tentang organisasi. Studi ini adalah sebuah bidang telaah
akademik khusus yang mempelajari orgailmu politik, antropologi dan psikologi.
Disiplin-disiplin lain yang terkait nisasi, dengan memanfaatkan metode-metode
dari ekonomi, sosiologi, dengan studi ini adalah studi tentang Sumber daya
manusia dan psikologi industri serta perilaku organisasi. Studi organisasi
adalah telaah tentang pribadi dan dinamika kelompok dan konteks organisasi,
serta sifat organisasi itu sendiri. Setiap kali orang berinteraksi dalam
organisasi, banyak faktor yang ikut bermain. Studi organisasi berusaha untuk
memahami dan menyusun model-model dari faktor-faktor ini.
Seperti halnya dengan semua ilmu sosial, perilaku organisasi berusaha untuk
mengontrol, memprediksikan, dan menjelaskan. Namun ada sejumlah kontroversi
mengenai dampak etis dari pemusatan perhatian terhadap perilaku pekerja. Karena
itu, perilaku organisasi (dan studi yang berdekatan dengannya, yaitu psikologi
industri) kadang-kadang dituduh telah menjadi alat ilmiah bagi pihak yang
berkuasa. Terlepas dari tuduhan-tuduhan itu, Perilaku Organisasi dapat
memainkan peranan penting dalam perkembangan organisasi dan keberhasilan kerja.
Meskipun studi ini menelusuri akarnya kepada Max Weber dan para pakar yang
sebelumnya, studi organisasi biasanya dianggap baru dimulai sebagai disiplin
akademik bersamaan dengan munculnya manajemen ilmiah pada tahun 1890-an, dengan
Taylorisme yang mewakili puncak dari gerakan ini. Para tokoh manajemen ilmiah
berpendapat bahwa rasionalisasi terhadap organisasi dengan rangkaian instruksi
dan studi tentang gerak-waktu akan menyebabkan peningkatan produktivitas. Studi
tentang berbagai sistem kompensasi pun dilakukan.
Perang Dunia II menghasilkan pergeseran lebih lanjut dari bidang ini, ketika
penemuan logistik besar-besaran dan penelitian operasi menyebabkan munculnya
minat yang baru terhadap sistem dan pendekatan rasionalistik terhadap studi
organisasi.
Pada tahun 1960-an dan 1970-an, bidang ini
sangat dipengaruhi oleh psikologi sosial dan tekanan dalam studi akademiknya
dipusatkan pada penelitian kuantitatif.
Sejak tahun 1980-an, penjelasan-penjelasan budaya tentang organisasi dan
perubahan menjadi bagian yang penting dari studi ini. Metode-metode kualitatif
dalam studi ini menjadi makin diterima, dengan memanfaatkan
pendekatan-pendekatan dari antropologi, psikologi dan sosiologi.
Perilaku organisasi saat ini merupakan bidang studi yang berkembang. Jurusan
studi organisasi pada umumnya ditempatkan dalam sekolah-sekolah bisnis,
meskipun banyak universitas yang juga mempunyai program psikologi industri dan
ekonomi industri pula
Bidang ini sangat berpengaruh dalam dunia bisnis dengan para praktisi seperti
Peter Drucker dan Peter Senge yang mengubah penelitian akademik menjadi praktik
bisnis. Perilaku organisasi menjadi semakin penting dalam ekonomi global ketika
orang dengan berbagai latar belakang dan nilai budaya harus bekerja
bersama-sama secara efektif dan efisien. Namun bidang ini juga semakin dikritik
sebagai suatu bidang studi karena asumsi-asumsinya yang etnosentris dan
pro-kapitalis.
Organisasi (Yunani: ὄργανον, organon - alat) adalah suatu kelompok orang yang
memiliki tujuan yang sama. Baik dalam penggunaan sehari-hari maupun ilmiah,
istilah ini digunakan dengan banyak cara.
Dalam ilmu-ilmu sosial, organisasi dipelajari oleh periset dari berbagai bidang
ilmu, terutama sosiologi, ekonomi, ilmu politik, psikologi, dan manajemen.
Kajian mengenai organisasi sering disebut studi organisasi (organizational
studies), perilaku organisasi (organizational behaviour), atau analisa
organisasi (organization analysis). Terdapat beberapa teori dan perspektif
mengenai organisasi, ada yang cukup sama satu sama lain, dan ada pula yang
berbeda.
BAB III
ANALISA
Organisasi dan Perilaku
A. Pengertian Manajemen Organisasi
Dari sisi manajemen organisasi adalah sebuah sistem lain atau suatu sarana yang
menerima input manajemen berupa tujuan-tujuan dan sasaran yang ingin dicapai
dan outputnya diharapkan berupa realisasi yang sesuai dengan rencana tersebut
.Dalam sistem organisasi maka yang jadi tujuan adalah bagaimana agar tercipta
kerjasama diantara personil yang terkait dalam struktur organisasi itu.
Makalah ini mengkaji system organisasi sebagai sebuah sistem produksi serta
sebagai sebuah system yang terbuka, dalam artian ia berinteraksi dengan
lingkungan, menarik input tertentu dari lingkungan dan merubahnya menjadi
output. Sebagai sebuah system terbuka, organisasi dipengaruhi oleh empat
subsistem utama, yakni:
1. system eknomi
2. system teknologi
3. system social budaya
4. system hukum & politik
Teori ERG (Existence Relatedness Growth ) oleh
Alderfer menyatakan bahwa individu termotivasi berperilaku untuk memuaskan satu
dari tiga kelompok kebutuhan.(Gibson,Ivanchvich Donnelly,Organisasi,Edisi
kedelapan). Ketiga kelompok kebutuhan itu adalah :
1) Kebutuhan pertumbuhan
2) Kebutuhan keterkaitan
3) Kebutuhan Existensi
Teori ERG mengasumsikan bahwa
Individu yang gagal memuaskan kebutuhan pertumbuhan menjadi frustasi, mundur,
dan memfokuskan kembali perhatian pada kebutuan yang ebih rendah. Motivasi ini
diukur dengan cara membuat skala pelaporan diri yang digunakan untuk menilai
tiga kategori kebutuhan.
Dalam Robbins, S.P (1993). Perilaku pada dasarnya berorientasi pada tujuan.
Dengan perkataan lain, perilaku kita pada umunya dimotivasi oleh suatu
keinginan untuk mencapai tujuan tertentu. Tujuan spesifik tersebut tidak selalu
diketahui secara sadar oleh individu yang bersangkutan. Ada kalanya kita bertanya
: “ mengapa saya melakukan itu adalah orang pertama yang memahami pentingnya
motivasi dibawah sadar. Ia beranggapan bahwa manusia tidak selalu menyadari
tentang segala sesuatu yang diinginkan mereka hingga sebagian besar perilaku
mereka dipenuhi oleh kebutuhan-kebutuhan dibawah sadar.
Teori dan praktik OD didasarkan pada beberapa asumsi penting yakni : Manusia
sebagai individu, Dua asumsi penting yang mendasari OD adalah bahwa manusia
memiliki hasrat berkembang dan kebanyakan orang tidak hanya berpotensi , dan
berkeinginan untuk berkontribusi sebanyak mungkin pada organisasi.
Atas dasar asumsi asumsi diatas, proses pengembangan
organisasi diterapkan dengan sasaran :
1. Hubungan yang lebih efektif antara departemen , divisi dan kelompok kelompok
kerja dalam organisasi
2. Hubungan pribadi yang lebih efektif antara manajer dan karyawan pada semaua
jenjang organisasi
3. Terhapusnya hambatan hambatan komunikasi antara pribadi dan kelompok
4. Berkembangnya iklim yang ditandai dengan saling percaya, dan keterbukaan
yang
dapat memotivasi serta menantang
anggota organisasi untuk lebih berprestasi
Dalam menerapkan OD ,
B. penerapan
pemahaman motivasi terhadap perilaku
Salah satu determinan perilaku adalah motivasi. Menurut Gibson (1995) Istilah motivasi
berhubungan dengan ide, gerakan dan apabila kita menyatakannya secara amat
sederhana, maka merupakan sesuatu hal yang “mendorong “ atau menggerakkan kita
untuk berperilaku dengan cara tertentu. Hal itulah yang merangsang seseorang
untuk maju dan mendorong kearah tujuan.
Pelaksanaan pekerjaan merupakan perilaku organisatoris yang dipilih seseorang
guna mencapai tujuan-tujuan pribadinya, yakni tujuan yang dianggapnya penting
untuk bergerak maju.
Jadi, seseorang yang mementingkan hasil pekerjaan merupakan seseorang yang
mementingkan motivasi. Ia akan memanfaatkan antara hubungan pribadinya dan
kekuasaannya atas lingkungan kerja sebagai alat motivasional.
Perilaku Organisasi adalah bidang studi yang menyelidiki dampak perorangan,
kelompok dan struktur pada perilaku dalam organisasi dengan maksud menerapkan
pengetahuan semacam itu untuk memperbaiki keefektifan organisasi (Stephen P.
Robbins, Perilaku organisasi Jilid 1:7).
Perilaku Organisasi mempunyai faktor kunci untuk diramalkan. Faktor tersebut
adalah
1. Peningkatan produktifitas
Organisasi dikatakan produktif jika tujuan dapat dicapai dan proses pencapaian
tersebut dilakukan dengan merubah masukan menjadi keluaran dengan biaya yang
paling rendah. Sehingga dapat disimpulkan bahwa produktifitas berhubungan
dengan keefektifan dan keefisienan.
2. Pengurangan kemangkiran
Kemangkiran adalah tindakan tidak masuk kerja tanpa alasan. Tingkat kemangkiran
yang tinggi dapat berdampak langsung pada keefektifan dan efisiensi organisasi.
3. Penurunan Turn Over
Turn over adalah pengunduran diri secara permanen dari organisasi.
4. Peningkatan kepuasan kerja
Kepuasan kerja adalah perbedaan antara banyaknya ganjaran yang diterima
karyawan dan banyaknya yang mereka yakini harus mereka terima. Karyawan
dikatakan merasakan puas bila perbedaan bernilai positif secara perhitungan
matematis.
C. Perilaku dalam berorganisasi
Berjuta karyawan kehilangan pekerjaan karena penciutan organisasi. Pada saat
yang bersamaan banyak organisasi mengeluh tidak dapat menemukan orang untuk
mengisi lowongan kerja sesuai spesifikasi yang diinginkan, Bagaimana saudara
menerangkan dua hal tersebut yang terlihat saling bertentangan? Perilaku
organisasi merupakan suatu bidang studi yang menyelidiki dampak perorangan,
kelompok dan struktur pada perilaku dalam organisasi dengan maksud menerapkan
pengetahuan semacam itu untuk memperbaiki keefektifan organisasi.Apa yang
dipelajari, yaitu bagaimana perilaku :
Perorangan (individu) Kelompok Struktur. Sejarah perilaku dimulai dari
pengamatan, kita adalah mahasiswa perilaku sejak tahun-tahun terdini, kita
telah mengamati tindakan orang lain dan telah mencoba untuk menafsirkan apa
yang kita lihat , pernahkan itu difikirkan
• Kita telah membaca orang hampir sepanjang hidup
• Kita melihat apa yang dilakukan orang lain dan mencoba menjelaskan pada diri
Anda sendiri mengapa mereka berprilaku demikian
• Kitapun terkadang meramalkan apa yang akan dilakukan pada kondisi yang
berbeda.
Terdapat generalisasi perilaku secara umum dengan pertanyaan bahwa kebanyakkan
dari kita menganut sejumlah keyakinan yang sering tidak bias menjelaskan
mengapa orang melakukan apa yang mereka lakukan.
D. Tantangan Dan Peluang OB
Tantangan yang ada menyangkut, usia yang bertambah, rumitnya bisnis, sedangkan
peluang yang ada menyangkut laju pertumbuhan inovasi , tantangan dan peluang
ini masih ditambah lagi dengan:
Keanekaragaman angkatan kerja
meningkatnya heterogenitas organisasi dengan masuknya kelompok-kelompok yang
berbedaü
Kearah memperbaiki kualitas dan
produktivitas dengan cara TQM (Totalü quality Management) yang merupakan filsafat manajemen
yang didorong oleh pencapaian kepuasan pelanggan secara konstan lewat perbaikan
sinambung atas semua proses organisasi,
TQM memiliki implikasi karena menuntut
para karyawan untuk memikirkanü ulang apa yang mereka lakukan dan menjadi lebih
terlibat dalam keputusan-keputusan ditempat kerjanya. Rekayasa Ulang dapat
membantu untuk empertimbangkan keml\bali bagaiman pekerjaan bias dilakukan dan
organisasi distruksikan seandainya kerja dan organisasi ini akan diciptakan
dari nol
1. Planning
Planning/perencanaan adalah hal utama yang harus dilakukan dalam manajemen.
Perencanaan yang baik adalah perencanaan yang "begin from the end".
Kita tetapkan tujuan bersama yang ingin dicapai. Tujuan adalah pelita yang
menunjukkan jalan bahkan di kegelapan malam. Tetapkan visi dan misi organisasi.
Yang penting adalah penetapan tujuan, visi, dan misi organisasi ini harus
dilakukan bersama-sama. Minimal tidak dilakukan sendirian. Memang pada umumnya
sebuah organisasi didirikan dengan seorang/beberapa tokoh kunci sebagai pemberi
konsep. Tetapi konsep itu mutlak harus diketahui oleh tiap orang dalam
organisasi agar terdapat kesamaan persepsi. Konseptor tidak mungkin berjalan
sendirian dalam perjalanan organisasi.
Jangan ragu dalam menetapkan tujuan, visi, dan misi. Seorang yang bermimpi
besar dan berusaha keras mewujudkannya namun tidak bisa lebih baik daripada
orang yang bermimpi kecil dan bisa mewujudkannya. Walaupun tidak dicapai,
dengan bermimpi besar maka langkah kita pun akan besar. Lagipula orang yang
bermimpi besar dalam pencapaiannya melebihi orang yang bermimpi kecil.
2. Actuating
Actuating/pelaksanaan adalah roh dari organisasi. Hanya omong kosong jika
perencanaan tidak diikuti dengan aksi yang sesuai. Implementasi adalah sama
pentingnya dengan perencanaan. Tanpa pelaksanaan yang baik rencana akan hancur
berantakan tanpa sempat mencapai tujuan. Oleh karena itu perlu adanya
pendelegasian yang tepat untuk suatu tugas tertentu. Serahkanlah suatu hal pada
ahlinya. Jika ditangani ahlinya tentu suatu persoalan akan selesai lebih cepat
dan hasilnya pun baik.
Untuk menunjuk orang yang tepat di tempat yang tepat perlu adanay komunikasi
terus menerus antara anggota organisasi. Dengan adanya komunikasi dan
silaturahmi, kompetensi seseorang seringkali akan dapat diketahui. Selain itu
komunikasi sangat penting dilakukan antara planner dan actuator. Komunikasi
penting untuk menyelaraskan antara keinginan perencana dengan pelaksana. Agar
tidak terjadi kesalahpahaman yang dapat mengganggu jalannya organisasi
Rencana bisa berubah di tengah jalan jika ternyata pada pelaksanaannya terdapat
situasi yang mendesak. Oleh karena itu pelaksanaan haruslah bersifat fleksibel
tanpa keluar dari jalur tujuan yang hendak dicapai. Orang mengatakan ‘banyak
jalan menuju ke Roma’. Begitupun dengan action(pelaksanaan), ia harus bisa
menyesuaikan dengan situasi dan kondisi. Bukan mengalir dengan arus bukan pula
melawan arus tetapi berusaha membelokkan arus perlahan-lahan ke arah yang kita
kehendaki.
3.
Controlling
Controlling adalah kunci dalam manajemen. Walaupun pendelegasian adalah hal
yang mutlak dalam organisasi, tetapi pendelegasian bukanlah berarti menyerahkan
segala urusan tanpa kendali. Seorang yang buta niscaya akan dapat berjalan
dengan normal jika diberitahu jalan yang harus dilewatinya. Begitupun
orang-orang dalam organisasi, seburuk-buruknya sistem manajemen jika ada
kontrol dan umpan balik yang rutin dilakukan maka hasilnya masih dapat
diterima.
Haruslah ada sistem reward and punishment dalam manajemen organisasi. Orang
yang berprestasi patut diberi penghargaan dan sebaliknya orang yang melakukan
kesalahan sebaiknya diingatkan untuk tidak mengulangi kesalahannya. Ini penting
sebab sistem ini akan memacu orang-orang dalam organisasi untuk mengeluarkan
kemampuan terbaiknya karena merasa dihargai. Hargai prestasi sekecil apapun dan
jangan biarkan kesalahan sekecil apapun. Segala sesuatu yang besar dimulai dari
yang kecil. Kita harus tegas dalam hal ini. Ini semua dilakukan agar pelaksanaan
sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Tidak melenceng dari sasaran
apalagi menetapkan sasaran seenaknya.
Tetapi ada hal yang penting namun seringkali terlewatkan oleh banyak manajer
organisasi. Yakni pentingnya menyentuh hati manusia dengan hati lagi. Ya, cinta
seringkali dilupakan dalam manajemen organisasi. Ada dua hal yang bisa membuat
orang total dalam suatu hal, yakni adanya keuntungan dan cinta. Orang bilang
cinta itu buta. Jika orang telah merasakan cinta dia akan melupakan kelelahan,
kesusahan, penderitaan yang diperoleh dan akan mencurahkan segenap waktunya
untuk hal yang dicintainya. Jangan ragu-ragu bagi manajer utnuk melakukan
pendekatan personal untuk orang-orang dalam organisasi seperti menjenguk jika
ada yang sakit, menanyakan kabar, memberi hadiah, melontarkan pujian, dan
sebagainya. Perhatikan kebutuhannya dan berempatilah terhadap kesusahannya.
Hal-hal ini mungkin kedengarannya remeh tetapi sebenarnya ini solusi yang jitu
bagi manajemen organisasi. Cinta akan menjadi perekat yang sangat kuat bagi
keutuhan organisasi.
E. Organisasi Sebagai Sebuah System
Terbuka
Organisasi merupakan sebuah system produktif. Ia
berinteraksi dengan lingkungan, menarik input tertentu dari lingkungan dan
merubahnya menjadi output yang ditawarkan pada lingkungan. Pencapaian tujuan
bergantung pada efisiensi prosesnya.
Untuk menganalisa sebuah system, penting untuk menetapkan hubungan antara
system dan lingkungan. Lingkungan organisasi merupakan system yang memiliki
tujuan tinggi, disusun oleh empat subsistem utama dari lingkungan, yakni :
1. system eknomi
2. system teknologi
3. system social budaya
4. system hukum& politik
Untuk menganalisa organisasi
sebagai sebuah system terbuka, perlu untuk :
• menetapkan hubungan antara organiasi dan lingkungan pada system eksternalnya
• menetapkan hubungan antara organisasi dan lingkungan, penting bagi kita untuk
mempelajari setidaknya factor utama yang mempengaruhi empat subsistem
lingkungan tersebut.
F. Empat
Subsistem Organisasi
1. Kultur
Organisasi
Dinamika perilaku orang berdasarkan kompetensi yang dimiliki, kreativitas dan
inovasi dalam organisasi tidak akan terbentuk tanpa dukungan kultur yang
memungkinkan hal itu terjadi. Tetapi kultur juga terbentuk dari pandangan hidup
seseorang atau kelompok dalam perusahaan. Dalam bisnis, kultur korporat adalah
the way of life dari organisasi yang terbentuk melalui proses regenerasi
karyawan (manajerial dan non-manajerial) dan proses transformasi nilai-nilai
dari kepemimpinan. Kultur menyangkut; siapa kita, apa keyakinan kita, apa yang
kita lakukan dan bagaimana itu dilakukan.
Masalahnya, kultur dalam organisasi yang terbentuk melalui proses transformasi
dan regenerasi itu, bisa mendorong orang untuk berprestasi, tetapi bisa pula
membuat orang tidak mampu melakukan inovasi dan perubahan. Kultur seharusnya
menciptakan lingkungan kerja yang membuat orang termotivasi, tertantang atau
antusias dalam bekerja. Titik tumpu pembentukan kultur adalah nilai-nilai yang
mempengaruhi mindset orang. Shared mindset adalah kultur.
Ini berarti, guna membangun kultur yang lebih bisa menciptakan ruang gerak yang
lebih dinamis dan inovatif, perubahan harus dimulai dari mindset orang..
Peran Strategis Leader Dalam Kultur Inovatif. Setiap leader dalam organisasi
harus mampu menjadi penggerak (driver) bagi organisasi yang dipimpin. Penggerak
untuk menuju ke pencapaian target dan tujuan yang telah ditetapkan organisasi.
Pemimpin organisasi harus mampu mengoptimalkan penggunaan semua resources dalam
organisasi agar tujuan organisasi dapat dicapai secara efektif dan efisien.
Oleh karena itu, leader dalam perusahaan atau organisasi lainnya (seperti
organisasi pemerintahan), harus mampu juga berperan sebagai manager.
Banyak leader yang gagal menggerakkan organisasi kearah visi yang telah dirumuskan,
gagal mencapai target dan tujuan yang telah ditetapkan. Mengapa mereka gagal?
Bermacam-macam penyebabnya. Salah satunya adalah, mereka tidak mampu mengajak,
mengarahkan, menggerakkan orang-orang dalam organisasi untuk bekerja secara
giat (work harder), dan bekerja dengan prestasi yang sempurna (work smarter).
Mengapa mereka tidak mampu sebagai driver bagi organisasi yang dipimpinnya?
Jawabannya juga bermacam-macam. Tetapi satu hal yang seringkali terjadi,
sebagian dari mereka yang menjadi pemimpin atau manajer perusahaan, umumnya
kurang menyadari peran strategisnya dalam organisasi sehingga tanpa disadari
mereka bukan menjadi penggerak melainkan justeru menjadi sumber konflik didalam
organisasi.
Mereka bukan sebagai perubah atau innovator bagi organisasi tetapi justeru
menjadi penghambat proses perubahan. Mereka tidak berperan sebagai organizer
melainkan secara tidak disadari, bertindak sebagai destroyer (perusak sistem,
perusak team work) dalam organisasi.
2. Visi
Organisasi
Visi memiliki kekuatan sebagai penggerak perubahan. Visi akan mempengaruhi
tindakan manajerial dan operasional orang-orang dalam organisasi. Oleh karena
itu visi haruslah realistis (dapat diwujudkan) dan praktis (tidak bersifat
utopian). Perubahan adalah proses yang menjembatani antara kondisi sekarang
(current position) dan posisi yang diharapkan yang akan datang (visi). Oleh
sebab itu visi berfungsi pula sebagai penggerak sentral perubahan, sumber
aspirasi dan sumber motivasi bagi semua orang dalam organisasi.
1. Setiap organisasi memiliki tujuan yang mengekspresikan alasan dari
keberadaan organisasi tersebut. Visi terletak pada tingkatan berbeda dari
identitas organisasi. Visi bisa dibuat pada tingkatan berbeda dari organisasi.
Bisa dari tingkatan CEO kemudian dipublikasikan dalam koran / buletin
organisasi atau juga melalui metode lanilla. Pesan pada staff bisa : “itu
merupakan gambaran masa depan organisasi, dan kami menginginkan anda untuk
ambil bagian”. Atau bisa juga visi itu dibangun dalam proses yang melibatkan
setiap anggota staff, dari supir hingga atasan. Bisa juga managemen
berkonsultasi dengan anggota organisasi sebelum menciptakan visi. Tidak ada
cara yang benar atau salah. Hanya ada cara yang tepat dan kurang tepat.
3. Struktur Organisasi
Setiap organisasi, industrial atau bukan memiliki struktur dan budaya. Struktur
ini mencerminkan mekanisme dari kekuatan atau kendali yang mengalir dalam
organisasi. Sedangkan budaya organisasi menentukan bagaimana kekuatan atau
kendali tersebut digunakan. Struktur organisasi saat ini umumnya terbagi dalam
Setiap organisasi, industrial atau bukan memiliki struktur dan budaya. Struktur
ini mencerminkan mekanisme dari kekuatan atau kendali yang mengalir dalam
organisasi. Sedangkan budaya organisasi menentukan bagaimana kekuatan atau
kendali tersebut digunakan. Struktur organisasi saat ini umumnya terbagi dalam
4. Strategi Organisasi
Model strategi organisasi ini digambarkan dalam bentuk pyramid.
a. Tujuan
Tujuan organisasi harus merefleksikan strategi dalam berbagai kondisi. Tujuan
menggambarkan ambisi dari perusahaan.
b. Perbedaan persaingan
Dalam persaingan pemasaran, keunggulan ditentukan oleh bagaimana bisnis kita
menyediakan kebutuhan konsumen lebih baik daripada pesaing kita. Dalam kamus
strategi, perusahaan yang unggul adalah yang dibedakan dari kompetitornya oleh
konsumen dari satu atau banyak dimensi.
c. Strategi konsumen
Dalam pelayanan professional, keunggulan kompetitif bergantung pada kemampuan
perusahaan untuk memenuhi kebutuhan konsumen, ini berujung pada pertanyaan “
siapa target konsumen kita?”
d. Strategi geografis
Ini menjawab pertanyaan : “jangkauan mana yang akan diperluas oleh perusahaan?
Local atau nasional? Pada level apa kita dapat bersaing dalam pasar luas? Apa
definisi global-dalam lima Negara? Bagaimana mencapai tujuan?
BAB IV
KESIMPULAN
DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berangkat dari pemikiran itu, prinsip-prinsip manajemen organisasi sesungguhnya
adalah manajemen orang-orang didalamnya. SDM merupakan faktor paling penting
dalam keberlangsungan hidup organisasi. Manusia adalah pendiri, perancang,
pekerja, pengamat, pengkritik, pemutus suatu organisasi. Tanpa mereka tidak ada
organisasi. Oleh karena itu konsep manajemen organisasi ideal haruslah berpusat
pada manusia.
Setidaknya ada tiga hal yang merupakan prinsip pokok dalam manajemen, yakni
planning, actuating, dan controlling. Prinsip-prinsip pokok ini harus dilakukan
dengan melibatkan organ-organ dalam organisasi.
Dari sisi manajemen organisasi adalah sebuah sistem lain atau suatu sarana yang
menerima input manajemen berupa tujuan-tujuan dan sasaran yang ingin dicapai
dan outputnya diharapkan berupa realisasi yang sesuai dengan rencana tersebut
.Dalam sistem organisasi maka yang jadi tujuan adalah bagaimana agar tercipta
kerjasama diantara personil yang terkait dalam struktur organisasi itu.
Perilaku organisasi juga dikenal sebaagai Studi tentang organisasi. Studi ini
adalah sebuah bidang telaah akademik khusus yang mempelajari orgailmu politik,
antropologi dan psikologi. Disiplin-disiplin lain yang terkait nisasi, dengan
memanfaatkan metode-metode dari ekonomi, sosiologi, dengan studi ini adalah
studi tentang Sumber daya manusia dan psikologi industri serta perilaku
organisasi. Studi organisasi adalah telaah tentang pribadi dan dinamika
kelompok dan konteks organisasi, serta sifat organisasi itu sendiri. Setiap
kali orang berinteraksi dalam organisasi, banyak faktor yang ikut bermain.
Studi organisasi berusaha untuk memahami dan menyusun model-model dari
faktor-faktor ini.
B. SARAN
Manusia sebagai anggota dan pemimpin kelompok. Organisasi yang menerapkan OD
harus berasumsi bahwa setiap orang dapat diterima dan diakui perannya oleh
kelompok kerjanya. Dalam organisasi perlu ditumbuhkan keterbukaan agar para
anggotanya dapat dengan leluasa mengungkapkan perasaannya dan pikirannya. Dalam
keterbukaan , orang akan mendapatkan kepuasaan kerja yang lebih tinggi,
sehingga dengan demikian performansi kelompok akan lebih efektif.
Manusi sebagai wadah organisasi. Hubungan antar kelompok – kelompok dalam
organisasi menentukan efektivitas masing masing kelompok tersebut. Misalnya
bila komunikasi antar-kelompok hanya terjadi pada tingkat manajernya ,
koordinasi dan kerjasama akan kurang efektif daripada bila segenap anggota
kelompok terlibat dalam interaksi.
DAFTAR PUSTAKA
James K. Van Fleet, 1973, 22 Manajemen organisasi, Jakarta:Mitra Usaha
Purwanto, Yadi, 2001, makalah: Manajemenororganisasi PT. Cendekia Informatika,
Jakarta
W. Brown steven, 1998, manajemen kepemipinan, Jakarta: Profesional Books